Tampilkan postingan dengan label Journey To The East. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Journey To The East. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Desember 2009

Episode 5: Monumen dan Taman Bungkul

Temanku berbaik hati mengantarku kesana-kemari ketika aku berada di Surabaya. Sambil berkendara membelah malam mengitari Surabaya, temanku itu menunjukkan beberapa ‘monumen’ yang bertebaran sepanjang jalur perjalanan. 
Kenapa aku bilang bertebaran?
Karena emang BANYAK, juga jaraknya dekat. Di bandung juga ngga kalah banyak sih…tapi rasanya monumen2 semacam itu ngga terletak berdekatan. Contohnya, MPRJB di dipati ukur, patung pemain sepak bola di jalan tamblong, patung ikan di daerah lingkar selatan….dan banyak lagi.
Nah, di Surabaya ini,…kayanya antar monumen itu bisa ditempuh dalam waktu 10 menit paling lama. Ibaratnya baru aja di simpang dago ketemu monumen, eeeh…di jalan merdeka uda ada lagi. Belok ke braga, eeehh…ada lagi…heheh patung ikan hiu vs buaya, tentu saja…mascot Surabaya. Trus ada monument yang aku ngga tau namanya, dengan bentuk yang keren. Desainnya simple, Cuma berbentuk balok panjang yang disusun bertingkat.  Tapi didandani dengan tata cahaya yang asik, dan ada air mancurnya. Kalo lagi nyala, kaya menari-nari lho.
 Tapi satu hal yang membedakan monumen2 surabaya dengan bandung: di Surabaya, semua terlihat bersih dan terawat. (bandung kumaha yeuh??)

Setelah kenyang makan angin berkeliling, saatnya untuk mengisi perut.
“Disini nih…tempatnya anak gaul Surabaya kumpul2…” temanku berujar (sebenernya berpromosi sih..) sambil mengajakku mampir ke taman bungkul.

Taman Bungkul itu yaaa…….hmmm….kaya situ buled-nya purwakarta dikawinin ama gasibu-nya bandung, hehehehe
Ada lapangan (kaya di gasibu), yang bisa dipake buat bikin panggung.
Trus, sekelilingnya ada taman, bisa lah buat duduk2….sambil pacaran hehehe
Agak ke belakang dikit, ada playground dilengkapi dengan wahana permainan anak-anak dan kolam (kolam ikan kah?ngga tau juga…waktu aku lewat situ, yang ada balita lagi cibang-cibung dengan hepi-nya hehehe)
Cocoklah buat main bersama keluarga dan anak,….buat yang uda punya..buat yang belum, boleh juga ko main disini hehe
Naah….bagian paling belakang ni yang paling rame. Ada foodcourt cuy….
Ada live music-nya lagi (maksudnya pengamen, tapi bagus lho. Ngamennya niat banget, bawa perkusi segala…vokalnya juga ga main-main)
Stand makanannya cukup beragam, harga juga terjangkau. Tapi buat yang ngga suka makan di tempat yang crowded, mungkin kurang cocok ya. Apalagi aku disitu sedikit roaming denger muda-mudinya ngobrol. Maklum, aku kurang ngerti bahasa jawa hehehe


Hujan rintik sudah berhenti. 
Sambil menyantap bebek kremes, aku pun menikmati malam pertamaku di Surabaya

Episode 4: Selamat Datang di Timur!

Ngga lama setelah aku melihat pemandangan yang sangat luar biasa itu, kereta mulai berjalan perlahan. Rupanya, kita melewati jalur yang beberapa hari lalu longsor. Aku uda balik lagi ke tempat dudukku. Dari balik jendela, bisa kulihat rel yang baru selesai diperbaiki.
Kereta berjalan dengan sangat…sangat…sangat pelan, dan menjadi sedikit miring ketika melintasi rel itu. 

Sedikit syerem…

09.45
Stasiun Tasikmalaya. Kereta berhenti sejenak untuk menjemput penumpang, berhenti bersebelahan dengan kereta ekonomi.
Aku jadi mikir………kalo aku jadi naik kereta ekonomi, apa rasanya ya. Naik yang ini aja diperkirakan 13jam perjalanan…fiuh….

15.30
Stasiun Solobalapan.
Stasiunnya lucu, peron-nya warna merah-putih. Suasana tradisional kerasa banget…vintage, hehehe
Sayang kita cuma lewat aja di stasiun ini. 

17.45
Kereta kita memasuki stasiun yang selalu berhutang, yaitu stasiun NGANJUK…hehehe (yang orang jawa, jangan marah ya. di bahasa sunda nganjuk emang artinya ngutang *__^ )

20.05
Setelah 13jam perjalanan, pantat tepos, sebotol air mineral, dan 2 buah donat habis kulahap……….. akhirnya tiba juga. Surabaya, aku datang!!

@__________@

Udara hangat dan sedikit lembab menyambut kedatanganku.
Rupanya, Surabaya sedang diguyur hujan rintik-rintik.

Episode 3: so amazing that......

Pukul 06.45, kunaiki kereta. Aku cari-cari nomor kursiku, 5D...yes...dekat jendela. Konon, pemandangan jalur selatan yang dilewati keretaku nanti sangat indah. 
Tapi...ternyata uda ada yang nempatin doong...seorang gadis yang duduk bersama ayahnya (kurasa itu ayahnya, hehe). “Mbak, duduk disini ya?” tanya gadis itu. Aku menganggukkan kepalaku.
Dia kemudian berdiri, melangkah keluar bersama ayahnya. Kulihat ayahnya menenteng helm...oh, Cuma nganter doang ternyata. “Mbak, saya mau deket jendela ya!” katanya sambil berdiri.
Haah…apa boleh buat, aku mengalah deh.... apalagi belakangan aku baru tau, dia juga baru pertama kali banget perjalanan jauh sendirian. Dan lagi, dia turun di jogjakarta. Masih ada harapan aku dapet tempat duduk dekat jendela, hehehehe 
Aku melihatnya menitikkan air mata sambil melambai keluar jendela, ke arah ayahnya yang melepas kepergiannya. Lalu dia memandangku dengan wajah malu, aku cuma tersenyum membalas tatapannya.

Jamku menunjukkan pukul 07.10 ketika kereta perlahan bergerak meninggalkan stasiun.
Baru beberapa lama, aku sudah merasa boring....gatel pantat hehehe
Jangan mikir jorok dulu, gatel pantat maksudnya aku uda ngga betah duduk.

07.45, kereta melewati garut. Aku beringsut pergi dari kursiku menuju perbatasan gerbong. Itu tuh, daerah yang ada WC-nya. Aku melihat pemandangan di luar..........SUBHANALLAH............indah banget.
Dari jendela kereta yang retak (ya, RETAK!), terlihat lembah di bawah, juga persawahan yang menghijau. Kabut tipis masih menyelimuti. Matahari baru menyembul dari balik awan, memancarkan semburat warna lembayung di langit yang masih temaram. Menciptakan pencahayaan yang membawa suasana magis. 

Tak sadar aku menahan nafas. 
Entahlah, aku benar-benar kehilangan kata untuk menggambarkan suasana yang kurasakan saat itu. 

Episode 2: Panic at The Station

06.10, aku tiba di stasiun bandung.
Aku melangkah menuju peron dengan hati berdebar. Maklum, ini kali pertama aku melakukan perjalanan jauh lintas jawa memakai kereta api. seorang diri lagi…. 
Campur aduk antara perasaan khawatir sekaligus girang…memikirkan akan seperti apa perjalanan nanti.
“Selamat Pagi............” petugas peron menyapaku dengan ramah sambil memeriksa karcisku. Baru saja beliau menerima karcis yang kusodorkan, tiba-tiba saja aku ‘diseruduk’ dari belakang. Gile booooo..........aku sampai terdorong ke seberang pintu. 
Aku menoleh ke belakang, 
ADA BANTENG DI STASIUN!!!
(hahah…lebay…emang hutan, masih ada banteng berkeliaran)

apakah gerangan yang menyerudukku itu?
Ternyata hanya seorang bapak-bapak yang dengan tergopoh nan heboh, juga berkata dengan suara keras pada wanita yang diduga istrinya,  ”HAYU MAH!!!”
Rupanya bapak Serudukwan (begitu aku menamainya...hehehe) itu penumpang argo gede yang harusnya berangkat pukul 06.00. Sambil panik, Pak Serudukwan bertanya dengan nada tinggi, “ARGO GEDE JALUR BERAPA?JALUR BERAPA??”
Petugas peron dan aku hanya saling bertatapan penuh arti. Bukan, bukan karena kami ada hubungan spesial,.....barangkali kami sama-sama mengerti tentang bapak tadi. Dengan tenang beliau berkata, “Sebelah sana pak...(sambil menunjukkan nomor jalurnya)....keretanya juga belum akan berangkat kok pak”

Halah....pikirku. Panik ni ye....

Aku memandang jam ditanganku. 
Masih ada waktu untuk cari sarapan  ^________________^

Episode 1: Bandung yang Kurindu

Matahari belum juga nongol ketika aku beranjak pergi dari tempatku menginap semalam, kost-an temanku yang terletak di daerah dago pojok.
Duingiiin……….
Orang-orang belum pada bangun, jalanan masih sepi. Hanya segelintir orang saja yang berpapasan denganku di jalan. Sambil jalan aku berpikir, kok kaya maling kesiangan ya…..
keluar kostan tadi aku berjalan mengendap-endap, karena tidak ingin membangunkan teman-teman yang masih terlelap. Uda gitu, bawa gembolan lagi…backpack besar ditambah sebuah tas lagi kujinjing….tinggal tutup muka pake sarung ala ninja, jadi deh maling kesiangan hahahaha

HMMMMMMMMMMM……kuhirup lagi udara pagi. Segar .

Tak lama, angkot jurusan dago-stasiun datang. Hup! Segera saja aku naik. Meskipun waktu di jam tanganku masih menunjukkan pukul 05.45, aku tak mau ambil resiko. Kereta yang akan membawaku ke Surabaya berangkat pukul 07.00, jadi paling telat aku harus tiba di stasiun pukul 06.30. Berhubung kali ini aku jadi angkoters……waktu perjalanan jadi tidak bisa diprediksikan secara pasti. Ada faktor angkotnya ngetem nunggu penumpang, belum lagi faktor macet ketika melewati pasar di simpang dago,......belum lagi faktor mang supir yang santai bawa angkotnya....

Ternyata benar saja,angkot yang kutumpangi berjalan perlahan menuruni jalan dago yang masih sepi dan lengang.
Seiring dengan roda angkot menggelincir menuruni ruas jalan dago, aku melihat sekeliling.
Simpang dago, dengan pasarnya yang selalu hidup
Deretan Factory Outlet yang masih tutup 
SMANSA, sekolah yang jaman aku muda dulu terkenal dengan tawuran massal-nya hahaha
Kartika sari, yang pisang bolen-nya masyur seantero nusantara (iya gituh?hehe)
Flyover Pasupati...’calon’ icon bandung
Melihat pemandangan sekeliling yang begitu ‘bersih’, ditambah remangnya suasana pagi....aku berpikir....ahhhhh.......
inilah suasana bandung yang kurindukan selama ini. Udara khas yang segar di pagi hari, nggak dinodai kesemrawutan lalulintas maupun bisingnya klakson kendaraan bermotor. Sejenak mengusir kepenatan akan rutinitas harian yang lama bertumpuk di pundakku.

Hatiku pun menjadi sejuk.