Tampilkan postingan dengan label jalan jalan slebor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan jalan slebor. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 September 2011

Jarambah Bandung: Braga Festival 2011 [3]

musium KAA yang 'mendadak' ramai
ini kali kedua saya menginjakkan kaki di gedung merdeka.

kalo waktu lalu saya puas banget main kesini, tapi tidak kali ini, huhuhuhu
di satu sisi, senang juga sih lihat musium banyak pengunjung seperti ini.
sayangnya, karena tidak ada tenaga yang mengarahkan suasanya jadi riuh seperti di pasar.

tapi,
kali ini saya berhasil memasuki ruang konferensi yang pada kunjungan lalu belum sempat saya masuki *lonjak-lonjak mode* sayangnya, saya tidak berhasil mengambil gambar yang cukup oke untuk ditampilkan di post ini T_T (lain kali kalo motret kacamata dipake ya..hahahaha udah tau bolor ko sotoy...)

setelah puas menjadikan mang Eja sebagai korban keganasan kamera saya,
kamipun beranjak ke luar menuju venue braga festival senjutnya yang berlokasi di jalan cikapundung.
 

mang Eja lagi pura-pura jadi fotografer

rupanya di sini, ada lagi panggung gembira panggung musik. belakangan saya baru tahu, band-band yang manggung di sini adalah band-band indie. saya sempat mengira, band-band yang manggung di sini adalah band anak sekolahan hahahaha maklum, banyak personilnya yang masih pada kecil-kecil sih ;)

saya melirik jam di pergelangan tangan.
rupanya sudah tengah hari. pantes panas. pantes cacing-cacing dalam perut sudah melantunkan orkes keroncong.
mang Eja pun melirik mang penjual ketan bakar. bukan, bukan karena dia ada hati sama mang penjual ketan bakar.
tapi rupanya mang Eja kabita gara-gara mencium semerbak wangi ketan bakar.

ketan bakar yang bikin mang Eja kesengsem..XD

sambil ngagembel di trotoar, kamipun menikmati menu makan siang hari ini: ketan bakar pakai serundeng.
hari-hari biasa sih, dijamin nggak bakal mau nongkrong pinggir jalan terus makan ketan sambil jongkok2 di trotoar hahaha
berhubung hari ini kami sepakat berperan sebagai turis (bukan singkatan dari tu-ur tiris),
entah kenapa kulit wajah kami sepertinya menebal beberapa sentimeter :D

ketan bakar rupanya tidak cukup untuk mengisi perut para turis gadungan ini.
karenanya, kamipun kembali mengayunkan langkah menyusuri jalan cikapundung.
rupanya, venue ini 'dikhususkan' bagi penikmat wisata kuliner :D
selain itu, di lahan yang sehari-hari dipakai untuk parkir motor (itu tuh, lahan yang lokasinya dekat banget sama sungai cikapundung) didirikan area bermain anak yang terbuat dari balon udara.
itu tuh..yang bentuknya mirip istana-istanaan, biasa dipakai main prosotan sama anak-anak. lucu juga :D

korban keganasan kami selanjutnya adalah kentang spiral dan batagor hanimun (lah, katanya nggak berduit....)
sambil menikmati batagor, melihat pertunjukkan band di atas panggung.
ternyata, ada pertunjukkan tambahan:

aki-aki jingkrak (hahahahaha)

dibanding panggung yang berada di kawasan jalan braga, panggung disini relatif sepi penonton.
karena itu, saat ada sedikit penonton yang berkerumun depan panggung, tentu akan menjadi pemandangan tersendiri.
awalnya orang-orang yang berkerumun depan panggung hanyalah anak-anak muda, mungkin teman-teman dari personil band yang saat itu lagi manggung. tapi kemudian, dari kejauhan kami melihat suatu sosok yang sedikit janggal;
seorang laki-laki dengan rambut berwarna kelabu terlihat berjingkrak dengan semangat saat sebuah band membawakan lagu-nya Slank.

opo ikuuuu?!
awalnya saya kira, mata saya yang salah. maklum bolor...
tapi ketika dilihat secara seksama....betullah itu seorang lelaki berumur, bukan anak muda..hahaha
aya-aya wae....

Jarambah Bandung: Braga Festival 2011 [2]

bebegig beras bulog
saya lupa nama jalan ini apa.
(ngakunya aja warga asli bandung...hahahaha)

yang pasti, di jalan ini ada gedung new majestic dan pintu masuk musium KAA juga ada di sini :D
jalan inipun, ternyata dimanfaatkan juga dalam event braga festival ini.
di sini ada instalasi sasaungan, bangku-bangku kayu, sehamparan padi, seni instalasi -entah apa itu namanya saya nggak tahu- yang mencerminkan kritik sosial;
bebegig sawah (bahasa resminya: orang-orangan sawah) yang terbuat dari karung beras bulog
dan tikus berdasi, berjas, dan berperut buncit ;)


live action oleh pak pelukis
sore hari ketika saya kembali lewati jalan ini,
beberapa seniman sedang 'live action' menggambar di kanvas super besar,
membuat lukisan dari cat minyak dan konte.

ada juga pertunjukkan capoeira di sini :)

ternyata, bukan hanya seni instalasi dan lukisan yang menarik minat pengunjung.
pak pelukis pun turut menjadi 'objek'.
salah satunya, pak pelukis yang melukis dengan konte itu tadi. gara-gara bajunya yang unik,

akhirnya banyak pengunjung yang justru minta berfoto bersama beliau; bukan memotret beliau sedang melukis atau memotret lukisan karyanya.
hahaha...ada-ada saja ya.
lagi asik-asik ngelukis, eeeh...tiba-tiba ada pengunjung yang njawil-njawil, "pak, mau foto bareng dong"
pak pelukis pun harus berhenti sejenak meletakkan konte-nya demi si pengunjung.


wajah lain warga kota bandung


mendekati gedung merdeka,
lagi-lagi ada deretan foto. memajang wajah-wajah yang tidak kita kenal, tapi sesungguhnya mungkin (sangat) sering kita jumpai di sekeliling kota bandung. foto para tunawisma; dengan rambut gimbalnya, dengan wajah coreng-morengnya,...bahkan ada foto tunawisma yang tidak berbusana. foto yang bagi sebagian besar pengunjung merupakan pemandangan yang tak sedap bahkan dianggap anonoh. tapi......itu pun adalah wajah kota kita. itu pun juga wajah kota bandung.

ternyata....di hari ini, musium KAA dibuka lebar-lebar!
berhubung partner jalan-jalan saya hari ini mengaku belum pernah main ke musium KAA, maka kamipun memutuskan untuk masuk melihat-lihat sejenak ke dalam, sambil rehat sejenak dari teriknya matahari.

Jarambah Bandung: Braga Festival 2011 [1]

tanggal 25 september 2011.

masih beberapa hari lagi menuju gajian T_T
dompet dan perut saya sedang diet habis-habisan.
tapi garing banget kalo hari minggu yang cerah ini cuma diisi dengan kegiatan berpacaran dengan laptop saja.
kebetulan teman saya, sebut saja namanya "Mang Eja" (nama samaran) sedang stres dan butuh hiburan...sepakatlah kami untuk membentuk duet maut dalam rangka bertualang dengan tema "jalan-jalan di bulan tua" hahahaha

siang bolong merambah menjelajah jalan kota bandung *tsaaaah* 
dengan tujuan: braga festival!

yep,
hari ini adalah hari terakhir dari rangkaian acara Braga Festival.
berbekal kamera poket pinjaman dari babeh, hari ini kami memantapkan niat untuk berpura-pura jadi turis,
biar tidak berduit yang penting gaya :D



suasana ketika saya datang
sekira pukul 10.20 WIB tiba di TKP.
saya datang dari arah landamark. setelah memarkir motor di dekat bank mandiri,
sayapun berjalan kaki menuju jalan braga. masih lengang rupanya.

sesampainya disana, saya 'disambut' oleh deretan foto....
oh rupanya ada pameran dari lomba foto dengan tema 'balik bandung' yang diselenggarakan oleh sebuah surat kabar
yang konon paling tahu jawa barat (ngaku-ngaku...hahahaha)



ini kali pertama saya mendatangi acara yang namanya Braga Festival *kemana aja neng...*
secara garis besar, Braga Festival merupakan perkawinan antara bazar kriya seni, pameran foto, pertunjukan musik,
pertunjukan seni rupa/instalasi, festival kuliner yang konon merupakan representasi dari wajah kota bandung.
ya orangnya, ya karya-karyanya, ya kulinernya, de-el-el, de-es-be. titik.
(tapi, menurut saya sih, braga festival ini lebih merupakan versi mini dari pasar seni itb yang diselenggarakan 5 tahun sekali itu)

berfoto bersama pak sariban
tahun ini, venue acara meliputi sepanjang jalan braga sampai jalan cikapundung. satu hal yang saya suka dari acara ini: pengaturan lay-out acara yang (menurut saya) PAS banget :)
sepanjang jalan braga, diisi dengan deretan display foto tadi, dua buah panggung, serta display dari komunitas hobi macam bikers brotherhood. oh iya Pak Sariban sang aktivis lingkungan yang beken itu, mangkal juga di jalan ini :)


hebatnya,
meskipun ada dua panggung dalam jarak yang relatif tidak jauh, tidak ada kesan 'saling mengganggu' dari kedua panggung tersebut. tidak ada suara hingar-bingar yang tumpang tindih.
juga, tidak ada 'stand-stand' bazaar jualan yang didirikan di sepanjang jalan braga (tapi kalo PKL mangkal mah tetep ada sih...hehehehe) jadi pengunjung yang datang bisa jalan-jalan dengan nyaman, bebas berfoto, melihat-lihat bahkan keluar masuk toko-toko yang berada di sepanjang jalan braga.

salah satu 'artis' yang manggung di jalan braga



gapura menuju venue selanjutnya
sampailah saya di ujung jalan braga.
disini dibuat semacam gapura, ada karpet merahnya segala...pake level lagi dibawahnya. tahu level? itu tuh...ganjel lantai yang kaya buat panggung itu. nggak ngerti juga saya kenapa harus ada beginian..hehehe padahal nggak pake karpet merah juga nggak apa-apa.
telepon genggam dalam saku bergetar pelan.
saya merogoh ke dalam saku, lalu melihat tulisan yang tertera di layar.
oh, rupanya mang Eja sedang culang-cileung dekat gedung new majestic.

baiklah!
saya pun menyebrang jalan menuju gedung new majestic, dengan bantuan pak polisi yang senantiasa berjaga disana :) 

Selasa, 09 Agustus 2011

Jarambah Bandung: Museum Pos

target ketiga: MUSEUM GEOLOGI dan MUSEUM POS

lhoo, kok dirapel?
iyadong kan museum geologi dan museum pos masih satu kawasan. dan lagi sebenarnya kami gagal mengunjungi museum geologi pada kesempatan kali ini *memalukan* 
pada saat kami tiba disana -di museum geologi kamsudnya- waktu sudah menunjukkan pukul 14.30 waktu indonesia bagian gedung sate (lho?!). 

ternyata, setelah berada di sana kami baru tahu bahwa museum tutup pukul 15.00, jadi sudah tidak menerima pengunjung. hanya pada waktu libur sekolah saja museum buka hingga pukul 16.00. sayangs sekalis T_T

karena itulah kami langsung capcus -bukan sodaranya masakan capcay- ke seberangnya: museum pos.
syukurlah museum ini masih buka hingga pukul 16.00
tanpa basa-basi kami dipersilakan untuk segera memasuki museum, yang ternyata ada di ruang bawah tanah...hoooooh....


bolang Dwi mejeng di pintu masuk menuju museum pos

bolang Dali yang terobsesi mengisengi sepeda pak pos
lagi-lagi, museum ini pada akhirnya hanya menjadi sebuah ruangan dimana benda-benda jadul dari jawatan pos dikumpulkan. tidak ada guide. tapi, berhubung kami dibebaskan untuk berkeliling sendiri, kamipun akhirnya bernarsis ria dan berautis ria mengoprek dan jarambah terhadap barang display, hahahahaha *jangan ditiru*










gerobak pos yang konon digunakan di Maluku pada dekade 1870 
banyak barang yang lucu dan aneh sih disini :)
ada gerobak pos yang dipakai di Maluku pada zaman kolonial dulu. konon gerobaknya ditarik pake sapi/ kerbau. silakan saja bayangkan pak pos yang keliling desa ditemani kerbau dan gerobak *mau kemana, kisanak? hahahahaha*








bis surat jaman kolonial belanda, digunakan di Irian Barat
mesin pencetak perangko buatan jerman













ada macam-macam bisa surat jadul yang penampakannya udah kaya peninggalan zaman prasejarah XD 
ada mesin pembuat perangko buatan jerman 

radio milik mas Suharto yang legendaris
ada koleksi perangko dari macam-macam negara
ada display sepeda onthel yang dipakai pak pos jaman dulu, 
seragam para karyawan pos dari jaman ke jaman, mesin hitung yang digunakan pada jaman dahulu (semacam mesin kasir lah kalo sekarang mah....), 
kantong pos yang ternyata beda-beda menurut jenis barang yang dikirim
diorama 'pos keliling desa',
sampai radio antik milik mas Suharto, tokoh pos legendaris yang hilang pada saat perang kemerdekaan berkecamuk...*ngomong-ngomong, saya melihat radio yang mirip sewaktu menonton film dokumenter di museum KAA sebelumnya...*

aaah...saya jadi membayangkan bagaimana sosok kakek saya dahulu dalam seragam pos *curhaaaaat*


bolang Dwi, bolang Anjar, dan bolang Dali sedang bedebat soal pose yang pas untuk difoto (padahal kan yang difoto kepalanya doang, wkwkwkwkwkwk)

waktu berkunjung pun habis. kami pun pulang, tak lupa sebelumnya duduk manis dan berpose di depan kantor pos pusat bandung :)

bolang Dali, bolang Anjar, dan bolang Dwi bergaya ala fotomodel (gadungan) dan dipotret oleh bolang miNyun (yang terobsesi jadi fotografer) :D

Jarambah Bandung: Museum Sri Baduga

target kedua: MUSEUM SRI BADUGA

ternyata tengah hari bolong berkunjung ke daerah tegallega 
merupakan ide yang buruk (-_-)*
panas dan muaceeeet! 
sedikit ngutruk dalam hati, "siapa sih yang punya ide bikin museum di tempat gini?!" 
*jangan dipedulikan sodara-sodara, tukang ojek berhelm sukro lagi ngambek gara-gara kepanasan*

dari beberapa museum yang kami kunjungi hari ini, inilah satu-satunya museum yang kudu bayar kalo mau masuk dan lihat-lihat ke dalam..haaa...
nggak mahal sih memang, cuma 2500 rupiah saja. tapi kesan pertama saat menginjakkan kaki di pintu masuk, sudah cukup membuat saya memble ('3')

setelah mendapatkan full service yang profesional saat mengunjungi museum KAA, mendapati para pegawai museum sri baduga yang saat itu lagi keleleran nggak jelas dan ramah seperlunya membuat saya berpikir satu kalimat saja: "wah..kebanting banget"
ditambah lagi, ruang-ruangan yang gelap (entah kenapa lampunya nggak dinyalakan) membuat saya jantungan setiap kali menjumpai manekin yang dipajang di ruang pamer. saya kira itu orang beneran lagi diem di pojokan ruangan nan gelap *ini kunjungan ke museum apa uji nyali seeeeeh*

sebetulnya display di museum sri baduga cukup menarik, karena beragam macamnya. mulai dari display mengenai sejarah geologis danau bandung (yang jadi cikal-bakal kota bandung), pajangan batu-batu purba, kayu yang udah jadi fosil,
kehidupan manusia purba, benda kubur manusia purba (hoh?!), replika gua pawon berikut manusia purba penghuninya,
display mengenai sejarah budaya seperti alat pertanian tradisional, rumah tradisional, sampai pajangan manekin yang menyerupai orang lagi ngaji di bale-bale ada (entah bagus entah syerem yang ini teh,....)
baju pengantin sunda, naskah-naskah kuno, 
alat musik, sampai permainan anak tradisional ada disana. 
tapi sayang, karena tidak ada guide yang memberi penjelasan mengenai barang-barang pajangan tersebut, akhirnya barang-barang itu hanya menjadi sekedar barang pajangan yang "ih, aneh ya" dan "ih, lucu ya" bagi kami yang sangat-sangat awam.

cukup sekira satu jam,
kami sudah tamat mengelilingi ruang museum.
Hoaaaah...panyaaaas....sudah waktunya kami bergegas menuju target selanjutnya.
tapi, sebelumnya makan dulu di gasibu hehehehehe

Jarambah Bandung: Museum Konferensi Asia-Afrika

Para bocah tua nakal kembali berpetualang.

kali ini anggota pasukan berjumlah empat orang; saya, dali #diimpor dari padang#, anjar #diimpor dari surabaya# dan dwi #diimpor dari solo#
serta dipersenjatai dua kendaraan bermotor, empat jaket gahool, empat masker, empat helm standar SNI, dua backpak, dan dua tas selempang *detail yang nggak penting*

rute kita kali ini adalaaaaaah.....eng ing eng!
jarambah ke museum-museum di bandung!
dengan target utama: museum konferensi asia-afrika, museum sri baduga, museum geologi, dan museum pos.

waktu sudah menunjukkan pukul 09.30, waktu indonesia bagian ciumbuleuit, titik start para bolang -bukan singkatan dari bocah malang- dalam perjalanan kali ini. sedikit telat memang, matahari pun sudah mulai terasa panas. tapi tak apalah, sepeda motor yang dipacu sekira 40 km/jam (maklum, boncengan nggak berani ngebut, ehehehehe) cukup memberikan suasana angin gelebug yang sanggup meredakan hawa panas.

target pertama: MUSEUM KONFERENSI ASIA AFRIKA

Gedung Merdeka a.k.a Museum Konferensi Asia Afrika

sampailah kami di tujuan pertama. setelah dua kali balikan memutari banceuy untuk mencari parkir, akhirnya kami berhasil mendapat tempat pas di dekat pintu masuk museum KAA.
nitip tas, nitip jaket, tulis nama di buku tamu....lalu disambutlah kami oleh tour guide yang senyumnya manis semanis kurma madinah (lho?!)

pertama-tama kami dipersilakan untuk menonton film dokumenter mengenai konferensi asia afrika berdurasi sekira 10 menit. rupanya ini film yang dibuat pada tahun 2000an lalu, untuk merayakan 50 tahun KAA. kok 2000an? maaf, lupa persisnya tahun berapa film ini dibuat *jitak berjamaah*. film berisi footage-footage dari konferensi tahun 1955 lalu, juga testimoni dari orang-orang yang pada waktu itu terlibat.

beres nonton film kami bertepuk tangan dalam hati (mau tepuk tangan keras-keras malu sih, cuma berempat soalnya...) dan memulai perjalanan keliling gedung. 

sepanjang perjalanan, kami disuguhi banner-banner yang berisi foto-foto pada saat KAA pertama berlangsung, foto para tokoh (presiden dan perdana menteri) yang terlibat, foto suasana sidang utama dan sidang komisi, after party KAA (hah, after party??) -maksudnya acara sampingan pada saat KAA berlangsung-, banner berisi hasil-hasil KAA seperti dasasila bandung dan lain-lain, juga banner berisi foto gedung merdeka before and after KAA :D...pretty impressive, because some of these photographs comes from 1920s!

lalu, bosan dong cuma lihat-lihat ruangan dan foto-foto?
oh tentu tidak!
guide kami memberikan full service :D 
sembari melihat foto dan banner, ia pun menjelaskan cerita di balik peristiwa mengenai gambar-gambar yang terpajang tersebut...juga tak lupa menceritakan sejarah gedung merdeka. siapa sangka gedung merdeka yang indah itu dulunya pernah dijadikan tempat dangdutan, hahahaha
selain itu, ia pun berbaik hati menjadi fotografer cabutan saat kami ingin bernarsis ria di depan diorama bung karno yang sedang berdiri depan podium untuk berpidato

sayang sekali, pada saat kami berkunjung di aula utama sedang diadakan simposium enterpreneurship internasional, sehingga kami tidak bisa bernostalgila di aula legendaris tempat KAA berlangsung. tapi, guide yang baik hati dan murah senyum itu mempersilakan kami untuk sedikit mengintip ke dalam aula \(^O^)/ 

tak terasa, dua jam berlalu, dan tibalah waktu untuk melenggang kangkung menuju taget selanjutnya.

bolang Dali dan bolang Anjar lagi serius motret





*sayangnya, karena nggak ada yang berani nyebrang jalan asia-afrika yang penuh dengan kendaraan berkecepatan tinggi, kami nggak punya foto gedung merdeka yang tampak depan T_T Ralaaaat: akhirnya bolang minYun berhasil mendapatkan foto tampak depan daripada gedung Merdeka *lonjaklonjakmode*


Jarambah Bandung: Curug Omas

teman saya dari jakarta datang berkunjung :)

"pokoknya mau wisata deh di bandung...kuliner dan jalan-jalan"
pernyataan yang membuat saya -mendadak didaulat jadi guide- bingung meskipun tidak sampai pusing tujuh keliling. 
sebelum jalan-jalan di bandung, baiknya sih tentukan dulu, mau wisata apa;
wisata belanja?
wisata kuliner?
wisata alam?
atau....  (silakan isi dengan hati yang bersih)

eniwei,
setelah saya jemput teman-teman saya di stasiun bandung dan mengisi perut akhirnya diputuskan bahwa mereka ingin wisata alam (hoh?) suatu keputusan yang membuat saya sedikit shock, mengingat ini sudah menjelang tengah hari *garukgaruk*
tapiii...tamu adalah raja, dan manut saja saya saat mereka bilang mau main ke dago pakar; atau nama kerennya 'Taman Hutan Raya Djuanda'

pergilah kami berempat; saya, uwi, ifan dan lala menuju hutan di tengah kota *tsaaaah*

perjalanan dari stasiun menuju dago ditempuh dengan menggunakan angkot, jurusan stasiun-dago (yang menuju arah dago ya, bukan sebaliknya....awas salah naik angkot hehehe). sampailah kami di terminal dago, setelah menghabiskan ongkos sekitar 4000 rupiah -_- mahaaal..
dari terminal ke dago pakar sih sebenarnya ada 3 pilihan:
1. naik angkot jurusan ciburial; tapi angkot ini jarang banget tersedia. ngongkos sekitar 2000 rupiah
2. naik ojek sampe pintu masuk dago pakar, ngongkos 5000rupiah; pilihan paling gampang sekaligus paling mahal
3. jalan kaki sampe dago pakar; pilihan ini tidak dianjurkan kecuali bagi anda yang uda biasa jarambah jalan kamamana, mengingat jarak terminal-dago pakar yang hampir 1 kilometer.

setelah mampir beli minum dan perbekalan di warung terdekat, berbincang, berdebat kusir *lebay* akhirnya kami mencapai mufakat untuk memilih opsi ke 2, yaitu naik ojek sampai pintu masuk dago pakar.

rasa terima kasih yang dalam saya ucapkan pada siapapun penemu mesin sepeda motor :)
jarak yang lumayan jauh dari terminal-dago pakar hanya ditempuh dalam sekejap saja jika menggunakan ojek hehehehe

memasuki kawasan, kami diharuskan membayar tiket masuk sebesar 7500rupiah. jaman saya smp dulu mah, pelatih ekskul saya pintar menemukan jalan rahasia untuk bisa masuk ke kawasan taman hutan raya tanpa membayar...hahahahaha *jangan ditiru*

mulailah kami berjalan-jalan :)


tangga yang menuju gua jepang. percayalah, perempuan berkerudung merah ini bukan penampakan!


entah bagaimana akhirnya diputuskan (nggak tau juga siapa yang memutuskan, hihihihi) kami akan berjalan sampai curug omas, yang berada di maribaya. asal tahu aja, jaraknya ada sekitar 6 kilometer..hueeee....
berlagak sehat, saya pun meng-OK-kan saja (nggak tahunya besoknya betis saya keriting, hahahahaha)
tanpa mampir untuk melihat-lihat gua belanda dan gua jepang.

sesi pemotretan di perjalanan menuju Curug Omas
track menuju curug omas sebenarnya cukup enak, karena sudah disediakan jalan setapak dari paving block (bener nggak sih gini nulisnya?ah biarlah...). tapi sayangnya, jalur yang seharusnya diperuntukkan untuk pejalan kaki atau pengendara sepeda -non motor- ini kerap dilalui oleh kendaraan bermotor, sehingga di beberapa titik paving block-nya ambles dan air pun menggenang -_-
menyesal saya hari ini memakai sepatu putih.....
tapi lebih kasihan lagi teman saya, lala, yang memakai setelah untuk pergi ke mall tapi 'diculik' dan dibawa jalan-jalan ke tengah hutan, hahahaha 
perjalanan dari dago pakar-maribaya (curug omas) ditempuh dalam waktu 2 jam, tapi itu uda termasuk istirahat dua kali dan foto-foto dulu sih hehehehehe

daaaaan....akhirnya pun kami sampai di curug omas.
uwi, si manis jembatan shirotolmustakiim *nyehehehehe*
di curug omas, ada jembatan yang melintas dekat sekali dengan air terjun, sampai-sampai kalau kita lewat di atas jembatan itu, terasa percikan air dari air terjunnya. saya menyebutnya jembatan shirotolmustakiim, hahahaa
jembatan ini sempit, walau pegangan/pagarnya dan rangkanya terbuat dari besi pijakannya terbuat dari kayu...dan nampak mengkhawatirkan pula. 







penampakan Curug Omas dari atas jembatan shirotolmustakiim
ditambah lagi tulisan peringatan yang bertengger di sana: "hanya sanggup menahan beban untuk 5 orang"
membuat jantung saya berdegup lebih kencang daripada ketika saya memimpikan kecengan saya *nggak penting* saat melintasi jembatan itu.

buat yang masih sayang nyawa, ada jembatan satu lagi yang lebih kokoh dan lebih lebar, letaknya agak jauh di bawah jembatan shirotolmustakiim tadi. jadi, dari 'pintu masuk' curug omas itu ada dua jalur, jalur ke kiri menuju jembatan sempit yang berada di dekat air terjun, dan jalur ke kanan menuju jembatan lebar yang letaknya lebih bawah.


penampakan Curug Omas, difoto dari jembatan bawah yang lebih besar
berhubung hari sudah siang menjelang sore, kami tidak bisa berlama-lama di sana.jadi setelah berfoto-foto walau kurang puas, kami kembali pulang. teman saya yang 'korban penculikan' itu akhirnya menyerah, tak kuat menahan derita dan memilih untuk naik ojek saja dari curug omas sampai gua belanda. tadinya, mang ojeknya minta ongkos 20.000rupiah *ajegile* tapi setelah ditawar edun, akhirnya tarif turun sampai 10.000. maafkan kami mang, kami adalah musafir kelana dengan budget minimalis, hihihihi

saya dan dua teman perkasa lain, ifan dan uwi memutuskan pulang dengan berjalan kaki saja. secara ajaib jalur pulang berhasil kami tempuh dengan waktu tempuh 45 menit saja!
(perhatian, banyak faktor harus diperhitungkan disini, antara lain: faktor kebelet, faktor lapar, dan faktor X lain yang secara ajaib dapat menyebabkan akselerasi dalam kecepatan berjalan. tidak berlaku umum, karena syarat dan ketentuan berlaku)

akhirnya,
sampailah kami di ujung penantian. lhoa?? kok penantian?? maksudnya tempat tukang ojek menanti penumpang, yaitu pintu masuk dago pakar yang diperuntukkan bagi pengunjung yang membawa mobil. oh iya, maaf saya lupa menyebutkan, pintu masuk resmi ke kawasan dago pakar ada 3; pintu utama tempat kami check-in *emang hotel...*, pintu untuk pejalan kaki (letaknya beberapa meter sebelum pintu utama), dan pintu untuk pengunjung yang bawa kendaraan pribadi (letaknya beberapa meter setelah pintu utama).

kembali kami menumpang ojek menuju terminal dago,
12 kilometer sudah kami tempuh. cape, haus,.....dan cacing-cacing di perut sudah memainkan orkes.
setelah menemukan angkot jurusan kalapa-dago, kami lempar p***at kami ke dalamnya;
dengan tujuan selanjutnya: The Kiosk Dago!






*emang sih ceritanya jalan-jalan yang hemat ongkos, tapi ujung-ujungnya boros makan gara-gara cape kebanyakan jalan, hahahaha*









Rabu, 16 Desember 2009

Episode 5: Monumen dan Taman Bungkul

Temanku berbaik hati mengantarku kesana-kemari ketika aku berada di Surabaya. Sambil berkendara membelah malam mengitari Surabaya, temanku itu menunjukkan beberapa ‘monumen’ yang bertebaran sepanjang jalur perjalanan. 
Kenapa aku bilang bertebaran?
Karena emang BANYAK, juga jaraknya dekat. Di bandung juga ngga kalah banyak sih…tapi rasanya monumen2 semacam itu ngga terletak berdekatan. Contohnya, MPRJB di dipati ukur, patung pemain sepak bola di jalan tamblong, patung ikan di daerah lingkar selatan….dan banyak lagi.
Nah, di Surabaya ini,…kayanya antar monumen itu bisa ditempuh dalam waktu 10 menit paling lama. Ibaratnya baru aja di simpang dago ketemu monumen, eeeh…di jalan merdeka uda ada lagi. Belok ke braga, eeehh…ada lagi…heheh patung ikan hiu vs buaya, tentu saja…mascot Surabaya. Trus ada monument yang aku ngga tau namanya, dengan bentuk yang keren. Desainnya simple, Cuma berbentuk balok panjang yang disusun bertingkat.  Tapi didandani dengan tata cahaya yang asik, dan ada air mancurnya. Kalo lagi nyala, kaya menari-nari lho.
 Tapi satu hal yang membedakan monumen2 surabaya dengan bandung: di Surabaya, semua terlihat bersih dan terawat. (bandung kumaha yeuh??)

Setelah kenyang makan angin berkeliling, saatnya untuk mengisi perut.
“Disini nih…tempatnya anak gaul Surabaya kumpul2…” temanku berujar (sebenernya berpromosi sih..) sambil mengajakku mampir ke taman bungkul.

Taman Bungkul itu yaaa…….hmmm….kaya situ buled-nya purwakarta dikawinin ama gasibu-nya bandung, hehehehe
Ada lapangan (kaya di gasibu), yang bisa dipake buat bikin panggung.
Trus, sekelilingnya ada taman, bisa lah buat duduk2….sambil pacaran hehehe
Agak ke belakang dikit, ada playground dilengkapi dengan wahana permainan anak-anak dan kolam (kolam ikan kah?ngga tau juga…waktu aku lewat situ, yang ada balita lagi cibang-cibung dengan hepi-nya hehehe)
Cocoklah buat main bersama keluarga dan anak,….buat yang uda punya..buat yang belum, boleh juga ko main disini hehe
Naah….bagian paling belakang ni yang paling rame. Ada foodcourt cuy….
Ada live music-nya lagi (maksudnya pengamen, tapi bagus lho. Ngamennya niat banget, bawa perkusi segala…vokalnya juga ga main-main)
Stand makanannya cukup beragam, harga juga terjangkau. Tapi buat yang ngga suka makan di tempat yang crowded, mungkin kurang cocok ya. Apalagi aku disitu sedikit roaming denger muda-mudinya ngobrol. Maklum, aku kurang ngerti bahasa jawa hehehe


Hujan rintik sudah berhenti. 
Sambil menyantap bebek kremes, aku pun menikmati malam pertamaku di Surabaya

Episode 4: Selamat Datang di Timur!

Ngga lama setelah aku melihat pemandangan yang sangat luar biasa itu, kereta mulai berjalan perlahan. Rupanya, kita melewati jalur yang beberapa hari lalu longsor. Aku uda balik lagi ke tempat dudukku. Dari balik jendela, bisa kulihat rel yang baru selesai diperbaiki.
Kereta berjalan dengan sangat…sangat…sangat pelan, dan menjadi sedikit miring ketika melintasi rel itu. 

Sedikit syerem…

09.45
Stasiun Tasikmalaya. Kereta berhenti sejenak untuk menjemput penumpang, berhenti bersebelahan dengan kereta ekonomi.
Aku jadi mikir………kalo aku jadi naik kereta ekonomi, apa rasanya ya. Naik yang ini aja diperkirakan 13jam perjalanan…fiuh….

15.30
Stasiun Solobalapan.
Stasiunnya lucu, peron-nya warna merah-putih. Suasana tradisional kerasa banget…vintage, hehehe
Sayang kita cuma lewat aja di stasiun ini. 

17.45
Kereta kita memasuki stasiun yang selalu berhutang, yaitu stasiun NGANJUK…hehehe (yang orang jawa, jangan marah ya. di bahasa sunda nganjuk emang artinya ngutang *__^ )

20.05
Setelah 13jam perjalanan, pantat tepos, sebotol air mineral, dan 2 buah donat habis kulahap……….. akhirnya tiba juga. Surabaya, aku datang!!

@__________@

Udara hangat dan sedikit lembab menyambut kedatanganku.
Rupanya, Surabaya sedang diguyur hujan rintik-rintik.

Episode 3: so amazing that......

Pukul 06.45, kunaiki kereta. Aku cari-cari nomor kursiku, 5D...yes...dekat jendela. Konon, pemandangan jalur selatan yang dilewati keretaku nanti sangat indah. 
Tapi...ternyata uda ada yang nempatin doong...seorang gadis yang duduk bersama ayahnya (kurasa itu ayahnya, hehe). “Mbak, duduk disini ya?” tanya gadis itu. Aku menganggukkan kepalaku.
Dia kemudian berdiri, melangkah keluar bersama ayahnya. Kulihat ayahnya menenteng helm...oh, Cuma nganter doang ternyata. “Mbak, saya mau deket jendela ya!” katanya sambil berdiri.
Haah…apa boleh buat, aku mengalah deh.... apalagi belakangan aku baru tau, dia juga baru pertama kali banget perjalanan jauh sendirian. Dan lagi, dia turun di jogjakarta. Masih ada harapan aku dapet tempat duduk dekat jendela, hehehehe 
Aku melihatnya menitikkan air mata sambil melambai keluar jendela, ke arah ayahnya yang melepas kepergiannya. Lalu dia memandangku dengan wajah malu, aku cuma tersenyum membalas tatapannya.

Jamku menunjukkan pukul 07.10 ketika kereta perlahan bergerak meninggalkan stasiun.
Baru beberapa lama, aku sudah merasa boring....gatel pantat hehehe
Jangan mikir jorok dulu, gatel pantat maksudnya aku uda ngga betah duduk.

07.45, kereta melewati garut. Aku beringsut pergi dari kursiku menuju perbatasan gerbong. Itu tuh, daerah yang ada WC-nya. Aku melihat pemandangan di luar..........SUBHANALLAH............indah banget.
Dari jendela kereta yang retak (ya, RETAK!), terlihat lembah di bawah, juga persawahan yang menghijau. Kabut tipis masih menyelimuti. Matahari baru menyembul dari balik awan, memancarkan semburat warna lembayung di langit yang masih temaram. Menciptakan pencahayaan yang membawa suasana magis. 

Tak sadar aku menahan nafas. 
Entahlah, aku benar-benar kehilangan kata untuk menggambarkan suasana yang kurasakan saat itu. 

Episode 2: Panic at The Station

06.10, aku tiba di stasiun bandung.
Aku melangkah menuju peron dengan hati berdebar. Maklum, ini kali pertama aku melakukan perjalanan jauh lintas jawa memakai kereta api. seorang diri lagi…. 
Campur aduk antara perasaan khawatir sekaligus girang…memikirkan akan seperti apa perjalanan nanti.
“Selamat Pagi............” petugas peron menyapaku dengan ramah sambil memeriksa karcisku. Baru saja beliau menerima karcis yang kusodorkan, tiba-tiba saja aku ‘diseruduk’ dari belakang. Gile booooo..........aku sampai terdorong ke seberang pintu. 
Aku menoleh ke belakang, 
ADA BANTENG DI STASIUN!!!
(hahah…lebay…emang hutan, masih ada banteng berkeliaran)

apakah gerangan yang menyerudukku itu?
Ternyata hanya seorang bapak-bapak yang dengan tergopoh nan heboh, juga berkata dengan suara keras pada wanita yang diduga istrinya,  ”HAYU MAH!!!”
Rupanya bapak Serudukwan (begitu aku menamainya...hehehe) itu penumpang argo gede yang harusnya berangkat pukul 06.00. Sambil panik, Pak Serudukwan bertanya dengan nada tinggi, “ARGO GEDE JALUR BERAPA?JALUR BERAPA??”
Petugas peron dan aku hanya saling bertatapan penuh arti. Bukan, bukan karena kami ada hubungan spesial,.....barangkali kami sama-sama mengerti tentang bapak tadi. Dengan tenang beliau berkata, “Sebelah sana pak...(sambil menunjukkan nomor jalurnya)....keretanya juga belum akan berangkat kok pak”

Halah....pikirku. Panik ni ye....

Aku memandang jam ditanganku. 
Masih ada waktu untuk cari sarapan  ^________________^

Episode 1: Bandung yang Kurindu

Matahari belum juga nongol ketika aku beranjak pergi dari tempatku menginap semalam, kost-an temanku yang terletak di daerah dago pojok.
Duingiiin……….
Orang-orang belum pada bangun, jalanan masih sepi. Hanya segelintir orang saja yang berpapasan denganku di jalan. Sambil jalan aku berpikir, kok kaya maling kesiangan ya…..
keluar kostan tadi aku berjalan mengendap-endap, karena tidak ingin membangunkan teman-teman yang masih terlelap. Uda gitu, bawa gembolan lagi…backpack besar ditambah sebuah tas lagi kujinjing….tinggal tutup muka pake sarung ala ninja, jadi deh maling kesiangan hahahaha

HMMMMMMMMMMM……kuhirup lagi udara pagi. Segar .

Tak lama, angkot jurusan dago-stasiun datang. Hup! Segera saja aku naik. Meskipun waktu di jam tanganku masih menunjukkan pukul 05.45, aku tak mau ambil resiko. Kereta yang akan membawaku ke Surabaya berangkat pukul 07.00, jadi paling telat aku harus tiba di stasiun pukul 06.30. Berhubung kali ini aku jadi angkoters……waktu perjalanan jadi tidak bisa diprediksikan secara pasti. Ada faktor angkotnya ngetem nunggu penumpang, belum lagi faktor macet ketika melewati pasar di simpang dago,......belum lagi faktor mang supir yang santai bawa angkotnya....

Ternyata benar saja,angkot yang kutumpangi berjalan perlahan menuruni jalan dago yang masih sepi dan lengang.
Seiring dengan roda angkot menggelincir menuruni ruas jalan dago, aku melihat sekeliling.
Simpang dago, dengan pasarnya yang selalu hidup
Deretan Factory Outlet yang masih tutup 
SMANSA, sekolah yang jaman aku muda dulu terkenal dengan tawuran massal-nya hahaha
Kartika sari, yang pisang bolen-nya masyur seantero nusantara (iya gituh?hehe)
Flyover Pasupati...’calon’ icon bandung
Melihat pemandangan sekeliling yang begitu ‘bersih’, ditambah remangnya suasana pagi....aku berpikir....ahhhhh.......
inilah suasana bandung yang kurindukan selama ini. Udara khas yang segar di pagi hari, nggak dinodai kesemrawutan lalulintas maupun bisingnya klakson kendaraan bermotor. Sejenak mengusir kepenatan akan rutinitas harian yang lama bertumpuk di pundakku.

Hatiku pun menjadi sejuk. 
 

je je es (bagian tiga)

Puas ngadem, aku keluar lagi dari toko megah itu
Aku panggil deh itu mang becak yang lagi mangkal di perempatan.
“Pak, ke pasarbaru berapa?”
“Lima belas ribu neng…”
“Wah?ngga kurang pak?” 
“Jalannya jauh neng”

Nah, itu aku lagi duduk manis di becak. 
Sebenarnya, adala alternatif alat transpor yang lebih mudah dan lebih murah. tapi, aku kan lagi pura-pura jadi turis. 
Turis yang ngga tau jalanan bandung.

Duduk manis, senyam-senyum.....ngga pake nyengir lebar, takut dikira kuda naik becak. Yang nyengir lebar banget kaya gitu kan cuma kuda, hehehehe

Maklum, udah bertahun-tahun sejak terakhir aku naik becak. Dan sejurus kemudian aku benar berdebar-debar. Bukan, bukan karena excited , tapi beneran sport jantung karena mang becak dengan gagah berani menerobos arus lalu lintas…… yang arahnya berlawanan dengan arah tempuhku   ~___~ !
Pertaruhan nyawa demi 15 ribu rupiah saja sodara-sodara!

Memasuki daerah pasarbaru, ada yang lebih heboh berkendara becak, 3-4 becak berjalan beriringan…bersusulan sebetulnya.
“Wahahahaha….pak!! kejar becak depan pak!!”

halah…beneran turis kayanya. Kasihan dia, mungkin dia seorang pembalap. Jiwa pembalapnya begitu mendarah daging, sampai-sampai menciptakan becak race seperti itu. 
Atau dia kegirangan karena di tempatnya kini becak sudah punah. Disingkirkan atas nama ketertiban. 
Mang becak apek kah?panas-panas gini harus mengayuh becak dengan tenaga ekstra demi customer satisfaction. Atau malah engkau senang?

Wah, jauh emang ternyata, dari jln.ibu inggit - pasarbaru. Maaf ya mang becak, bukan maksud menyiksamu diterik panas ini. Sungguh aku hanya penumpang! 

Nah, itu aku turun depan tangga pasarbaru.
Makasih ya pak. Mengantarkanku selamat sampai tujuan dengan mempertaruhkan nyawa demi…ah…demi apakah bapak? Sedikit rupiah untuk keluarga yang menanti di rumah?

Itulah, aku yang menaiki tangga untuk memasuki mall pasarbaru. Segera saja aku disergap dengan suara gordes seorang gadis.
“BELANJA……..BELANJA………..BELANJA.....pak, bu…sepatunya…sendalnya…”
ow, sungguh suara yang luar biasa. Hingga aku naik ke lantai dua pun, masih terdengar. Belakangan, di toilet aku berjumpa lagi dengan si pemilik suara itu. Sambil cuci tangan aku curi-curi pandang padanya, lewat cermin didepanku. 

Jangan mikir jorok dulu.........dia itu cuma cuci muka. Aku juga cuma cuci tangan...supaya tidak jorok tentunya. Kuperhatikan, ternyata dia cuma gadis kecil. Paling seusia anak SMA. Dari tubuh mungil itu tersimpan tenaga yang luar biasa rupanya. Ada pengeras suara built-in di tenggorokannya, hehehe

Putar sana, putar sini, pilih barang, tawar harga…kulihat jam di tanganku, rupanya sudah semakin siang. Belok kanan, belok kiri…iiiih…..eskalator yang turun ada dimana sih? Bingung. 
Sebelah sini…eh? Kok naik semua?? 
Sebelah sana? Naik juga….
yang turun sebelah mana??
Penataan yang aneh. 
Sepintas teringat omongan ayahku, 
“itu sengaja de, biar orang-orang ngga langsung turun. Ngga langsung pulang. Muter-muter dulu liat dagangan”

benarkah??

Ah! Ketemu!
Bergegas aku turun, sambil mendengar tukang teh botol menjajakan dagangannya,
“Teh botol…teh botol….beli teh dua botol dapet tanda tangan saya gratiss!!”

je je es (bagian dua)

Udah sampe nih.
sampe mana? Ya itu. Tempat tujuan aku jalan-jalan dong. Kamu ngga tau tempatnya?
ah, kasian sekali kamu. Aku kasi tahu deh.aku kan baik ^________^

Daerah alun-alun mesjid raya bandung. Ngga, aku ngga mau main di alun-alun. Aku mau ke jalan dalem kaum.

Nah, itu aku lagi jalan. 
Ceritanya udah selesai puter-puter dalem kaum dan pasar kota kembang.
Berlanjut nih isengnya. Maka dari itu aku jalan ke otista…menyusuri jalan. Sambil liat kanan-kiri tiap lewat perempatan jalan. Bukan, bukan karena waspada mau menyebrang. Itu aku lagi liat-liat, jalan ini menuju ke mana ya?

Oh,itu ke makam pahlawan dewi sartika

Oh,, itu ke ITC kebon kalapa

Oh, itu kemana ya? Aku ngga tau, hehehe

Jalan lurus terus menyusuri trotoar
Di emper toko, kujumpai PKL…sepasang pria-wanita berwajah bingung, kelelahan…dan bawa gembolan teramat besar. Pemuda yang hanya duduk saja sambil melamun. Tukang parkir sedang duduk saja di depan toko, sambil ngobrol dengan (mungkin) temannya.Daaan…tak ketinggalan, pengemis. Itulah wajah kotaku.

Sejenak aku terusik dengan pemandangan di depanku. Seorang ibu duduk di emper toko, dengan mangkok plastik tergeletak di depannya. Mengemis.
Kurogoh kantong belakang celanaku, kukeluarkan semua isinya, yang kutahu tidak banyak.
“hatur nuhun neeeenggg….semoga…bla..bla..” serentetan doa terucap dari bibir keringnya, sebagai ungkapan terima kasih.

Ibu,
Seharusnya bukan ibu yang berdoa. 
Seharusnya aku yang berdoa, Ibu, 
semoga ibu tak harus berada di jalanan lagi.

terakhir, aku lihat papan petunjuk jalan;
Lurus : lapangan tegallega, leuwi panjang
Kanan : Pasirkoja

Lho? Ini mah bentar lagi aye keluar kota bandung atuh hehehe

Hmm. Jalan ibu inggit garnasih.

Cape ah, panas lagi. 
Tuh, itu aku lagi nyebrang. Masuk toko megah yang jual baju muslim-kerudung dan aneka ria perlengkapan muslim lainnya.
Bukan, bukan mau beli sesuatu. 
Aku cuma mau ngadem sejenak di toko megah ber-AC itu hehehe